
Didampingi oleh dua wakil dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Bambang Sujanto dan Unang Angkawidjaya, Rombongan Konjen RRT tiba di kantor PWNU pukul 13.00. Rombongan di sambut hangat oleh Masyhudi Muchtar dan Abdul Rahman Navis selaku Humas PWNU, mereka saling berjabat tangan dan segera memasuki ruang rapat tertutup.
Rapat tersebut dihadiri oleh tujuh orang, diantaranya Konjen RRT, Wang Huagen beserta dua penerjemahnya, dua wakil dari Yayasan HM Cheng Hoo, dan dua wakil dari PWNU. “Ini ruangan VIP, pers dilarang masuk, nanti kita adakan jumpa pers setelah rapat,” tegas Masyudi Muchtar selaku Korbid Kebijakan Umum & Pembinaan Badan Otonom PWNU.
Rapat tersebut membahas tentang kekerasan serius berupa pemukulan, penghancuran, penjarahan, dan pembakaran yang terjadi di Daerah Otonom Uigur Xinjiang, Tiongkok Barat Laut pada 5 Juli 2009. Hasil penyelidikan badan keamanan Xinjiang menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan peristiwa etnis maupun agama, melainkan sebuah kejahatan serius yang direncanakan, teroganisir, dan didalangi secara teliti oleh aktivis Turkiskan Timur dari Kongres Uigur Dunia dengan Rebiya Kadeer sebagai ketuanya.
Hasil rapat yang berlangsung selama kurang lebih satu jam ini menghasilkan perdamaian antara pihak Nahdatul Ulama dengan Konjen RRT. Wang Huagen menjelaskan kepada PWNU bahwa peristiwa yang terjadi di Xinjiang ini bukan masalah agama dan etnis. “ini adalah peristiwa konflik antar buruh yang di politisir oleh mereka yang memiliki kepentingan politik di Cina dan dijadikan sebagai isu agama” tutur Humas PWNU, Abdul Rahman Navis kepada Radar Surabaya.
Di Cina, kaum muslimin adalah kaum minoritas, tetapi lain halnya di Xinjiang, muslimin merupakan kaum mayoritas. Sebagai salah satu daerah yang mendapatkan kedudukan otonom di Cina, Xinjiang mengimplementasikan kebijakan etnis dan agaman pemerintah pusat secara komprehensif. “Pemerintah pusat di China senantiasa menghormati dan melindungi hak-hak kepercayaan agama semua etnis yang tinggal di wilayah Xinjiang,” kata Abdul Rahman.
Menurut Konjen RRT lewat penerjemahnya, kondisi di Cina dan Xinjiang sudah aman, masjid, pertokoan, dan semua tempat yang semula diamankan sekarang sudah dibuka dan aktivitas sudah normal kembali. “Saya menghimbau agar kaum mislimin tidak terpengaruh apalagi terpancing dengan isu-isu yang berkembang di Cina maupun Xinjiang” tambah Humas PKNU.
Menyikapi peristiwa Xinjiang tersebut, Konjen RRT di Surabaya akan mengadakan seminar Forum Ilmiah dengan mengundang pihak PWNU, PW Muhammadiyah, dan segenap kaum muslimin yang ada di Surabaya.








