Selasa, 14 Juli 2009

Wang Luruskan Peristiwa Xinjiang


Surabaya – Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (Konjen RRT) di Surabaya, Wang Huagen datang ke Pengawas Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Jalan Kebonsari, Selasa (14/7). Tujuannya adalah meluruskan isu-isu yang berkembang seputar masalah yang terjadi di Daerah Otonom Uigur Xinjiang, Tiongkok.

Didampingi oleh dua wakil dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Bambang Sujanto dan Unang Angkawidjaya, Rombongan Konjen RRT tiba di kantor PWNU pukul 13.00. Rombongan di sambut hangat oleh Masyhudi Muchtar dan Abdul Rahman Navis selaku Humas PWNU, mereka saling berjabat tangan dan segera memasuki ruang rapat tertutup.

Rapat tersebut dihadiri oleh tujuh orang, diantaranya Konjen RRT, Wang Huagen beserta dua penerjemahnya, dua wakil dari Yayasan HM Cheng Hoo, dan dua wakil dari PWNU. “Ini ruangan VIP, pers dilarang masuk, nanti kita adakan jumpa pers setelah rapat,” tegas Masyudi Muchtar selaku Korbid Kebijakan Umum & Pembinaan Badan Otonom PWNU.

Rapat tersebut membahas tentang kekerasan serius berupa pemukulan, penghancuran, penjarahan, dan pembakaran yang terjadi di Daerah Otonom Uigur Xinjiang, Tiongkok Barat Laut pada 5 Juli 2009. Hasil penyelidikan badan keamanan Xinjiang menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan peristiwa etnis maupun agama, melainkan sebuah kejahatan serius yang direncanakan, teroganisir, dan didalangi secara teliti oleh aktivis Turkiskan Timur dari Kongres Uigur Dunia dengan Rebiya Kadeer sebagai ketuanya.

Hasil rapat yang berlangsung selama kurang lebih satu jam ini menghasilkan perdamaian antara pihak Nahdatul Ulama dengan Konjen RRT. Wang Huagen menjelaskan kepada PWNU bahwa peristiwa yang terjadi di Xinjiang ini bukan masalah agama dan etnis. “ini adalah peristiwa konflik antar buruh yang di politisir oleh mereka yang memiliki kepentingan politik di Cina dan dijadikan sebagai isu agama” tutur Humas PWNU, Abdul Rahman Navis kepada Radar Surabaya.

Di Cina, kaum muslimin adalah kaum minoritas, tetapi lain halnya di Xinjiang, muslimin merupakan kaum mayoritas. Sebagai salah satu daerah yang mendapatkan kedudukan otonom di Cina, Xinjiang mengimplementasikan kebijakan etnis dan agaman pemerintah pusat secara komprehensif. “Pemerintah pusat di China senantiasa menghormati dan melindungi hak-hak kepercayaan agama semua etnis yang tinggal di wilayah Xinjiang,” kata Abdul Rahman.

Menurut Konjen RRT lewat penerjemahnya, kondisi di Cina dan Xinjiang sudah aman, masjid, pertokoan, dan semua tempat yang semula diamankan sekarang sudah dibuka dan aktivitas sudah normal kembali. “Saya menghimbau agar kaum mislimin tidak terpengaruh apalagi terpancing dengan isu-isu yang berkembang di Cina maupun Xinjiang” tambah Humas PKNU.

Menyikapi peristiwa Xinjiang tersebut, Konjen RRT di Surabaya akan mengadakan seminar Forum Ilmiah dengan mengundang pihak PWNU, PW Muhammadiyah, dan segenap kaum muslimin yang ada di Surabaya.

Senin, 13 Juli 2009

Diobati Gratis, Minta Posko Kesehatan

Yayasan Pelita Kasih yang diketuai oleh seorang aktivis sosial Lanny Chandra, mengadakan acara pengobatan gratis kepada narapidana di Lembaga Permayarakatan (Lapas) Kelas 2-B Pasuruan, Sabtu (11/7).

Rombongan berangkat menuju Pasuruan pukul 08.30 dan tiba pada 11.00. Lapas Pasuruan menyambut hangat Rombongan Yayasan Pelita Kasih. Para penghuni sel berbondong-bondong keluar menuju ruang serbaguna untuk mengambil kesempatan memeriksa kesehatannya secara gratis.

Dengan membawa 11 dokter muda lulusan FK Unair dan satu orang lulusan UWKS. diantaranya enam perempuan, tiga laki-laki semuanya lulusan S-1 Kedokteran, 3 dokter muda, serta satu dokter senior, Siu Mei asal Medan. Mereka membuka praktek kesehatan gratis bagi narapidana dan seluruh staff Lapas Pasuruan. Di bagi dalam empat tim, tiga tim praktek kesehatan dan satu tim apoteker, masing-masing team berisi dua lulusan S-1 dan satu dokter muda sebagai supervisi tim.

“Saya merasa sakit di bagian perut sebelah kiri, mulanya saya kira ini liver, ternyata, kata ai Lanny hanya kebanyakan makan mi instan, saya lega dengan adanya pengobatan gratis ini,” ujar salah satu narapidana, Nahrawi(42) yang diperiksa langsung oleh Ketua yayasan.

Dari total 319 narapidana, terdapat 130 pasien yang datang memeriksa kesehatannya. Mereka datang dengan berbagai keluhan, diantaranya sakit perut, badan panas-dingin, penyakit kulit, susah tidur, sampai konsultasi mengenai kaki yang mengecil akibat luka tembak. “Pihak Lapas Pasuruan sangat senang dengan kedatangan yayasan ini, program ini telah dinanti-nanti oleh kami,” ujar KA. KPLP Pasuruan, Jumali kepada Radar Surabaya.

“Kalo bisa didirikan posko kesehatan, atau ada ambulans yang siap menangani kita jika sewaktu-waktu ada yang sakit parah” pendapat Ghofur(27), salah satu napi yang dimintai pendapatnya. Menanggapi hal tersebut, Lanny menyatakan kalau pihaknya tidak mampu untuk menyediakan jasa tersebut, “Sampeyan ini kurang bersyukur, doakanlah tante agar dapat donator lebih supaya harapan-harapan kalian bisa terkabul,” jawab nenek tiga cucu ini sambil bergurau.

Acara pengobatan gratis di Lapas Pasuruan ini diadakan tiga bulan sekali oleh Yayasan Pelita Kasih. Yayasan ini sendiri sudah 12 tahun beroperasi sejak 1997, sekarang memiliki 10 orang pengurus, dan beberapa dokter muda yang dikoordinatori oleh Aldrey, dokter muda lulusan FK Unair. Seluruh anggota adalah relawan dan sama sekali tidak di bayar, “Kami melakukan ini dengan misi kemanusiaan, kami tidak mencari nama sama sekali, kami yakin kalau Tuhan melihat kita dan bisa membantu kita dalam kegiatan sosial ini,” kata Amer, yang telah bergabung dengan Yayasan Pelita Kasih sejak 2002.

Bahasa Tionghoa Diminati Non-Tionghoa


Jumlah peminat Kursus Bahasa Tionghoa di Sanggar Agung meningkat dari tahun ke tahun.

KURSUS Bahasa Tionghoa yang di bawah manajemen Easy Study-Mandarin Education Center tersebut memiliki tiga kelas, dari yang semula waktu berdiri hanya satu kelas dengan jumlah lima siswa pada 1998. “Sekarang jumlah peminat kursus makin bertambah, jumlah siswa mencapai 150 orang” kata Zhang Ji Xiang, staf operasional kursus kepada Budi/Radar Surabaya, Selasa(7/7).


Tempat kursus yang sudah berumur 10 tahun pada 18 Januari 2009 ini memiliki peminat berbagai usia, dari usia 7-60 tahun. “Tidak hanya dalam berbagai usia, berbagai keyakinan pun boleh mengikuti kursus ini. Di sini kan tempat belajar Bahasa Tionghoa, bukan belajar tentang agama,” tambah Ji Xiang, pria yang berumur 38 tahun.

Sistem kursus memiliki enam tahapan intermediate. Di dalamnya terdapat program listening, reading, writing, dan conversation. Pembagian kelas berdasarkan kemampuan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Menurut Ji Xian, siswa paling sulit mempelajari tahap tulis menulis dalam kursus ini.

Dengan biaya pendaftaran Rp 60 ribu dan Rp 40 ribu per bulan, kursus sedang membuka pendaftaran kembali pada july 2009. Biaya murah merupakan bagian dari amal. Buktinya, pengajar sama sekali tidak dibayar. “Karena konsep kami amal dan para pengajar yang 10 orang ini bersifat sukarela saja,” ujar Zhang yang berprofesi sebagai pedagang pulsa. “Jadi, uang operasional yang Rp 60 ribu itu, masuk ke kas. Lalu dioperasionalkan kembali untuk keperluan tempat kursus ini, misalnya pembelian kipas angin, papan tulis dan sebagainya,” tutur Ji Xiang yang akrab di panggil dengan julukan Kobo ini.

Rabu, 08 Juli 2009

Try to be a Journalis: Warga Tionghoa mendukung Pemilu 2009

Try to be a Journalis: Warga Tionghoa mendukung Pemilu 2009

Warga Tionghoa mendukung Pemilu 2009

Pesta Demokrasi Pemilu 2009 pada Kamis (8/9) disambut positif warga Tionghoa Surabaya. Unang Angkawidjaya, Humas Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia inipun ikut menggunakan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 77 Jalan Lebak Arum 2 tepatnya di Balai RW XIV.

Sekitar pukul 10:00, pria yang akrab dipanggil Weng Kai Wen ini mencontreng di TPS tersebut, ia sedikit memberi tanggapannya kepada Radar Surabaya tentang berjalannya Pemilu 2009, “Persiapan panitia sudah lebih maju, semua berjalan lancer, harapan saya, semoga yang terpilih bisa lebih menyempurnakan Negara kita agar lebih baik”.

Ketika Ketua Humas Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini diminta pendapat tentang dukungan kaum tionghoa terhadap pemilu, jawabannya adalah “Lihat saja di Kya-Kya Kembang Jepun, sebagian besar warga tionghoa yang menjadi pengusaha menutup tokonya dan meliburkan karyawannya untuk mengikuti Pemilu”

Pemukiman mayoritas yang dihuni warga tionghoa ini mengikuti Pemilu ini sebagian besar menggunakan hak pilihnya dengan baik. “Hanya 19 pemilih yang Golput, dan angka yang hadir melebihi 50% dari jumlah keseluruhan” Ungkap Gunawan, Ketua KPPS kepada Radar Surabaya.

Sejak dibuka pukul 07:00 hingga ditutup pukul 13:00, TPS ini tidak mengalami banyak kesulitan. Pengitungan suara di TPS yang di akhiri pukul dua siang ini berlangsung lancar, “Panitia hampir tidak menemui kendala-kendala yang bisa berakibat fatal” tambah Gunawan, pria yang berumur 45 tahun.

Dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang berjumlah 494, hanya 284 pemilih yang hadir. Di TPS 77 Balai RW XIV Lebak Arum Surabaya, pasangan Mega-Prabowo mendapat 74 suara, SBY-Budiono 181 suara, JK-Wiranto 10 suara, dan selebihnya adalah Golput, 19 suara.

Gingseng Tiongkok berumur 50 sampai 3000 Tahun

Gingseng liar produksi PT Muara Karang dipamerkan di Supermall-Surabaya selama dua minggu. Gingseng yang berasal dari pegunungan Jilin Changbai, Tiongkok, memiliki bentuk yang khas dan khasiat berbeda dari gingseng biasa.

Gingseng budidaya yang selama ini bersifat panas bila dikonsumsi, kini tidak lagi. Tiongkok-Mountain adalah tempat pemasok gingseng liar, dapat dikonsumsi setiap hari, membuat tubuh hangat dan dapat dikonsumsi oleh anak-anak sampai dewasa. Semakin tua umurnya, semakin besar ukurannya, dan semakin mahal harganya. Fungsi dan khasiatnya sama, yang membedakan yaitu lambat atau cepatnya reaksi gingseng.

"Gingseng muda seperti kita naik kapal kecil, gingseng sedang seperti naik kapal laut, gingseng tua seperti naik pesawat" tutur Linda(40) Sales Marketing PT Muara Karang kepada Radar Surabaya, Sabtu(4/7).

Penawaran khusus diskon 30 persen selama pameran di Supermall 29 Juni sampai 12 Juli 2009. Beragam gingseng ditawarkan, berbentuk serbuk dan kapsul, ada juga yang dijual masih dalam bentuk akar. Pameran gingseng ini memiliki koleksi gingseng berusia 50 sampai 3.000 tahun. Harga bermacam macam, mulai Rp 560 ribu sampai ratusan juta rupiah, harga sesuai dengan umur gingseng. Terdapat tiga macam gingseng yang ditawarkan, yaitu Changbai Mountain, American, dan Korean gingseng.

Berbeda dengan gingseng budidaya, Jenis produk yang ditonjolkan adalah Changbai Mountain Gingseng, gingseng liar dan alamiah yang bersifat hangat di tubuh. Gingseng ini menjadi komoditi utama di wilayah pegunungan Jilin Changbai di China dan Vladivostok di Rusia.

Gingseng adalah jenis tumbuhan berkhasiat yang tumbuh pada cuaca yang sejuk dan lembab dengan kondisi tanah yang subur. Tiongkok-Mountain adalah tempat yang cocok untuk ditanami gingseng, dengan cuaca di bawah 0° Celcius dan memiliki tanah yang subur menjadikan tempat yang tepat untuk pertumbuhan gingseng liar. (budi)

UPN "Veteran" Jatim Menuju Enterpreneur University

Memasuki usia 50 tahun, UPN Veteran Jatim meraih penghargaan sebagai Perguruan Tinggi Unggulan wilayah Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) VII. Peningkatan mutu pendidikan terus dilanjutkan, 10 fasilitas penunjang baru didirikan.

Kampus yang bertempat di Jalan Raya Rungkut Madya Surabaya ini melakukan penataan di berbagai bidang akademik, yaitu dengan adanya program research university yang kini dijalankan, sekarang menuju program enterpreneur university. “Kami akan melakukan pembenahan fasilitas serta mutu pendidikan dan ke depannya, kami akan menjalin kerjasama dengan dunia-dunia usaha” tutur Diana Amalia (42), Kabag Humas UPN Jatim kepada Radar Surabaya, Senin(6/7).

Munuju perubahan, UPN Jatim menerapkan standar mutu berdasarkan ISO 9001:2008. Penerapan diawali dengan pelatihan dan workshop, kemudian dilanjutkan dengan audit ISO. Penerapan standar mutu ISO telah dicanangkan pada 19 Juni 2009, dan targetnya bisa menjadi perguruan tinggi tingkat internasional.

Berbagai penghargaan diterima universitas ini pada 2009, menurut Diana, di antaranya masuk dalam lima Perguruan tinggi Unggulan wilayah Kopertis VII, perguruan tinggi berprestasi di bidang Tata Kelola, Penelitian & Pengabdian kepada masyarakat, dan di bidang Kemahasiswaan.

UPN Jatim telah menambah 10 fasilitas penunjang mutu akademik, diantaranya UPN TV, AK Radio 107.7 FM, Inkubator bisnis, Pusat Pengembangan Advokasi Hukum, lab Perbankan, lab pengelolaan sampah terpadu, Wifi area, jurnal ilmiah, lab komputer, dan implementasi ISO 9001:2008.

Laboratorium TV dan Radio bekerja sama dengan JTV. Labolatorium yang dikelola oleh mahasiswanya sendiri inipun sudah menjadi web streaming TV yang dapat dinikmati melalui UPN website. Beroperasi di 8 VHF dengan daya jangkau 6 km, UPN TV beroperasi setiap hari.

Dalam menjalankan labolatorium Perbankan, pihak kampus mendapat sumbangan alat-alat operasional dari BNI. Peralatan tersebut antara lain printer, buku tabungan, dan mesin penghitung uang. Sebelumnya, keduanya sudah bekerjasama mengenai pembayaran kuliah dan administrasi kampus.

BUDI

Program Studi S1 Bahasa Tionghoa di Surabaya


SURABAYA - Jumlah peminat Program Studi (Prodi) Bahasa Tionghoa di Universitas Widya Kartika (Uwika) meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, kampus di Jalan Sutorejo Prima Utara II/1 Surabaya ini berencana membuka program strata satu (S-1).

Saat ini Uwika memiliki 13 program studi, termasuk D-3 Bahasa Tionghoa yang didirikan pada 2001. "Sekarang jumlah peminat D-3 Bahasa Tionghoa semakin bertambah," kata Fitriya(30), kepala Program Studi Bahasa Tionghoa Uwika kepada Radar Surabaya Kamis(2/7).
Menurut dia, pihaknya sudah mengajukan rencana program S-1 Bahasa Tionghoa kepada pihak universitas. Namun, belum jelas kapan rektorat Uwika menyetujuinya. Lembaga Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa juga mendukung rencana program S-1 Bahasa Tionghoa di Uwika.
Lembaga tersebut adalah komunitas pengajar Bahasa dan Sastra Tionghoa yang ada di Surabaya. Sebab, tuntutan pekerjaan lebih membutuhkan lulusan sarjana S-1 ketimbang D-3.

Yang menarik, peminat jurusan ini tak hanya mahasiswa keturunan Tionghoa, tapi juga non-Tionghoa. "Perbandingannya sekitar 60:40 antara mahasiswa Tionghoa dan non-Tionghoa," tutur Kepala Program Studi Bahasa Tionghoa Fitriya

Kurikulum D-3 yang semula mengacu kepada pratikum-pratikum, program sarjana ini lebih ke arah pendidikan dan pengajaran.

Prodi Bahasa Tionghoa Uwika pernah tiga kali berturut-turut meraih juara 2 lomba debat Bahasa Tionghoa dalam bidang bisnis, politik, dan kebudayaan pada 2005, 2006, dan 2007.
Jurusan Bahasa Tionghoa di UWika memiliki fasilitas-fasilitas pendukung, antara lain labolatorium, komputer, ruang tari, dan ruang musik. Mahasiswa sering mengadakan workshop, terakhir workshop Sastra Tionghoa. "Peminatnya dari kalangan mahasiswa, pelajar, dan umum," kata Fitriya.

(budi prihantono)

Swarovsky Tiongkok untuk Aneka Aksesoris

Toko Hokky, ITC-Surabaya, menjual pernak-pernik berbahan dasar dari batu-batuan alam untuk dijadikan aksesoris cina.

Yulianawati(29), memiliki keahlian khusus untuk merangkai berbagai macam aksesoris, mulai dari kalung, anting, gelang, pajangan, dan lain-lain. Menjadi seorang desainer aksesoris adalah cita-cita warga Surabaya yang akrab dengan panggilan Jing-Jing ini. Gemar mengoleksi aksesoris beragam bentuk dan warna, rasa ketertarikan untuk mencoba merangkai dari bahan dasar batu, hingga menjadi sebuah perhiasan yang menarik.

Batu Swarovski, cristal, monte, dan batu-batuan alam menjadikan sebuah aksesoris yang menarik dan cukup langka. Ditambah dengan beragam desain yang tidak dimiliki oleh kompetitor lain, membuat koleksi hasil kerajinan buatan yuli lebih digemari oleh peminat aksesoris. Dengan keuletan dan idenya, serta kesempurnaan dalam membuat sebuat aksesoris, membuat yuli tidak takut dengan kompetitor lain, “Kompetitor akan membuat saya semakin tertantang” ucap yuli dengan tegas dan yakin.

Hampir tiga tahun sejak September 2006, yuli mengelola tokonya secara mandiri, membuat berbagai desain sebagai koleksi untuk di jual, sekaligus juga ia sendiri yang menjaga toko aksesorisnya. Barang yang ditawarkan mulai dari perhiasan, pajangan meja dan aksesoris yang terbuat dari batu alam lain. Borovsky dan cristal yang berasal dari Austria, China dan juga lokal, menjadi bahan dasar yang memiliki daya tarik lebih bagi pelanggan. Harganyapun beraneka ragam, tegantung dari bahan dasar yang di pakai dan sesuai dengan tingkat kesulitan dan keunikan aksesoris.

Tidak hanya menjual barang jadi, bahan dasar seperti batu-batuan alam bisa di dapat di toko hokky aksesoris. Yuli bersedia mengajarkan cara membuat aksesoris kepada pelanggan yang membeli bahan dasar ditokonya.

Sabar dan Ulet adalah Kunci Menuju Sukses


Didik Effendi(47), warga jalan Gubeng Kertajaya, Surabaya, yang menjadi seorang pengerajin yang sukses di era sebelum krisis global, sekarang usahanya terancam tutup. Kenapa bisa begitu?

Didiek memulai karir sebagai seorang pengerajin ukiran kayu perabot rumah tangga di tahun 1970. Keahlian dalam seni mengukir kayu yang dimiliki warga blasteran Cina-Indonesia ini di dapat dari warisan orangtuanya yang dulu juga menjadi pengerajin ukiran kayu. Pengerajin yang satu ini cukup ulet yaitu dengan sabar dan terus berusaha dengan mengumpulkan kayu sedikit demi sedikit merangkainya menjadi suatu perabot rumah tangga siap jual.

Pak Didik memiliki dua profesi, yaitu seorang Guru BK dan seorang pengerajin ukiran kayu. Berawal dari menjadi seorang Guru BK di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan yang ada di Surabaya, ia menyisihkan sedikit demi sedikit uang gajinya untuk mengulak kayu jati untuk di ukir dan di rangkai menjadi sebuah perabot rumah tangga yang khas akan daya tarik ukiran di setiap sisinya.

Di tahun 90an, usaha Pak Didik berkembang pesat dengan banyaknya permintaan ekspor perabot ukiran kayu jati dari berbagai Negara. Dengan mempekerjakan lima sampai enam orang pengerajin, warga keturunan Cina beragama islam ini dapat memenuhi permintaan pelanggan dengan baik. Kendala yang ditemui hanya pada stok kayu yang semakin susah di dapat, biasanya pasokan kayu berasal dari Kalimantan, Madura, Solo, dan daerah lain di Indonesia.

Di era sebelum krisis global melanda, usaha ukiran perabot rumah tangga ini cukup menjanjikan, omset dalam satu bulan kira-kira bisa mencapai 50 juta rupiah per bulan. Pelanggan kebanyakan berasal dari luar negeri yaitu Amerika, Australia, Eropa, dan lain-lain. Wisatawan asing suka mengoleksi perabot ukiran, apalagi perabot tersebut memiliki nilai sejarah, penawaran yang diberikan akan membumbung tinggi.

Dengan adanya krisis global yang melanda bangsa kita, juga karena dampak dari peristiwa bom bali, wisatawan yang dulunya suka berkunjung dan melirik Indonesia, sekarang berkurang minatnya untuk datang lagi ke Negara kita. Sekarang hanya ada satu pembeli asing yang masih menjadi pembeli setia perabot kayu, yaitu wisatawan dari Belanda.

Hasil dari usaha perabot rumah tangga ini tidak sebesar pada era 90an, langkanya pembeli dan tingginya harga beli bahan baku, belum juga untuk gaji pegawai, membuat usaha ini semakin berkurang penghasilannya. Namun Pak Didik tetap bersabar dan terus berusaha agar usaha ini tetap berjalan dan dia yakin dengan kesabaran dan keuletan akan membuahkan hasil yang melimpah.